Postingan

Tradisi Tiup Lilin

Di atas sebuah bolu umur terenggut teriring ucapan simpatik hadir, hadiahkan hati kala sepi. Api padam, renggut umur mengiaskan sebuah pergantian yang harus dilakukan memulai perjalan baru. Langkah kaki menapak pada rangkaian cerita anyar, serta jauh dari kisah lawas. RR.110918

Rayuan Lumbung Padi

Padi merekah, menguning merekah Hias dataran, sejauh mata menilik Antara petak-petak elok pesawahan Sampaikan salam indah di pikiran Mata memandang setiap cangkul Menghantam tanah, dibuatnya gembur Panas menyengat menusuk tubuh Mencuri cara memenuhi bumbu "Mas, kamu selalu bergairah" Sayup mendengar ujaran mesra "Demi dapur, ku relakan tubuhku" Kemudian kembali bergumul lumpur Rayuan dahaga merangsang jiwa Waktu bergulir secara bersahaja Mata hari ini menantang sukma Merusuh rasa, memutus asa

Satu Gelas Rindu

Menyendiri dalam gelap malam Saat angin menyelinap ke tubuh Menatap pergantian iringan awan Berbuah pertanyaan dipikiran Lagi-lagi ku diam membungkam Antara langit yang tak berias Karena malam sedang murung Melihat aku membisu Tiba ku pada malam berikutnya Saat hati tak ingat kejadian sama Yang baru aku alami di hari lalu Menyembunyikan kata rindu

Malam Rindu

Perjalanan sendu mengikis kalbu mengarungi kisah pilu, diantara kabut lembut merenggut kecut hidup biar maut melucuti aku. Malam sunyi laksana hati tanpa isi di dalam nadi lemah mengambil alih cerita tiada akhir. Burung merenung bersamaku mengais, menangis padaku tak terjawab satu persatu kisah pilu itu.

Alfa

Menatap gelap Terhunus cita Termakan bual Terhimpit Kepalsuan Terjepit Kebohongan Kepancing Amarah Terkurung asa

Senjata Puitisi

Biarkan penaku ini Menjadi amunisi penting Tatkala aku 'kan ingin Menembus bumi Tak ada yang menghalangi Senjata utamaku ini Dalam menuliskan imaji Dari kehidupan yang tinggi Walau keras batu karang Tetap usaha menyerang Tak pernah terkekang Hingga pena 'kan menang

Keputusan Sulit

Bagaimana cara diriku ini Untuk dapat memilih, Diantara pilihan yang sulit Dan seakan menjadi rumit. Jujur saja dalam batin. Sebenarnya ku tak sanggup. Untuk berdiri, tetap bertahan. Diatas ombak yang menerjang Kemana lagi harus ku bawa Pakaian yang setia ku kenakan Karena sudak terkoyak zaman Yang kian lama buas menerkam Apakah aku harus berhenti? Berhenti untuk tetap berangkat Melewati badai kehidupan. Penuh pisau yang berdarah Entah sanggupkah aku Mengendalikan ombak di tepian, Di sebuah pantai yang tenang. Tanpa ada perasaan senang,