Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 16, 2016

Senjata Puitisi

Biarkan penaku ini Menjadi amunisi penting Tatkala aku 'kan ingin Menembus bumi Tak ada yang menghalangi Senjata utamaku ini Dalam menuliskan imaji Dari kehidupan yang tinggi Walau keras batu karang Tetap usaha menyerang Tak pernah terkekang Hingga pena 'kan menang

Keputusan Sulit

Bagaimana cara diriku ini Untuk dapat memilih, Diantara pilihan yang sulit Dan seakan menjadi rumit. Jujur saja dalam batin. Sebenarnya ku tak sanggup. Untuk berdiri, tetap bertahan. Diatas ombak yang menerjang Kemana lagi harus ku bawa Pakaian yang setia ku kenakan Karena sudak terkoyak zaman Yang kian lama buas menerkam Apakah aku harus berhenti? Berhenti untuk tetap berangkat Melewati badai kehidupan. Penuh pisau yang berdarah Entah sanggupkah aku Mengendalikan ombak di tepian, Di sebuah pantai yang tenang. Tanpa ada perasaan senang,

Cinta di Ujung Jalan

Siapa dia yang berjalan di sana? Menggunakan sepatu berwarna merah. Hati ini bertanya pada jalanan. Siapa yang baru berjalan di atasmu? Aku memandangmu dengan penuh arti. Mengharapkan suatu hari terjadi. Menjadi sepasang hati ini, Diantara cinta dan kasih sayang. Kamu berlalu di hadapku, Memberi senyum manis susu. Dan berlalu dari hadapku. Menghilang di ujung jalan itu. “Akankah waktu berjalan mundur, Agar aku bisa mengenalnya?” “Aku hanya waktu, Dan aku hanya dapat berjalan maju.”

Sajak Di Dermaga Cinta

Aku menanti dirimu di sudut pelabuhan. Menunggu kau datang walau tak akan. Mengulur waktu hingga kapal bersandar. Di sebuah dermaga yang tak di kenal. Dari dalam kapal dapat ku perhatikan. Setiap kendaraan menyusuri jalan. Menuju keluar dari pelabuhan. Meninggalkan aku di sini sendirian. Hingga kapal kembali berangkat, Kemudian lenyap di tengah selat. Kau tak kunjung nampak di sini, Membiarkanku merasa sepi. Kapal yang lain kembali merapat, Dan kembali lakukan bongkar muat. Apakah kau akan sempat, Menemuiku yang sendang sekarat.

Jatuh Cinta

Siapa yang berdiri anggun di sudut halte. Entah mengapa membuat jantung merdu berirama, Karena terpikat pesonanya. Entah kenapa dia? Mengulur waktu di antara kopaja Menaikkan penumpang dan mengantarnya. Ku ingin mengenal namanya. Tetapi entah mengapa ku terus mengulur waktu. Karena mulut membungkam dan membisu. Tanpa tau penyebab utamanya, Yang membuat waktu kian mengulur. “Siapa nama gadis penunggu halte itu? Bodohnya aku karena siakan waktu.” Ketika kopaja yang akan mengantarku Berhenti di depan halte itu dengan kernet yang menyaut. Dan kemudian pergi meninggalkan rindu. Sepanjang jalan, sebelum sampai pada tujuan Ku masih memikirkan gadis itu. Kenapa aku terlalu menyiakan kesempatan itu Untuk mengenal lebih jauh. Bodoh!! Hanya rasa rindu yang singgah di diriku Akankah kesempatan lain datang untuk mampir? Agar dapat ku manfaatkan kesempatan itu. Untuk...

Harapan Di Pagi Hari

Mentari kembali membuka cahaya, Karena ia peduli kehidupan di dunia. Ku beranjak dari ranjang mimpi. Suatu harapan kembali mampir. Akankah dia masih menerimaku. Pukul tujuh kurang ku tulis pesan padanya. Berharap cinta datang membaca. Besar harapan yang ku rasakannya. Tetapi kecil kemungkinan untuk menjadi nyata. Karena hayalku berumah pada imajinasi saja. Menunggu detik mengubah diri menjadi menit. Saat itu fikiranku mulai menyempit. Akankah pesan itu dibalas olehnya, Ataukah hanya di baca saja, Atau hanya di abaikan seperti tak teranggap.

Kerisauan Hati

Dimalam ini aku khawatirkan dirimu. Akankah kamu menjauh dariku, Dan tak ‘kan kembali padaku. Tetapi ku harapkan tiada pernah. Karena ku dilanda cinta. Ku tatap layar ponsel penuh harap, Bila engkau menjawab pesanku. Lama sudah memendam rindu padamu, Karena aku sungguh cinta padamu. Tanpa ada paksa maupun perantara. Berulang ku menyampaikan pesan, Namun tak satu pun terbaca. Akankah kamu sudah lupa. Atau kamu pergi meninggalkan Semua kebersamaan kita. Hatiku berdebar khawatir padanya. Jantungku berdetak tak berirama. Karena telah menanti dirimu, Yang tak kunjung menjawab pesanku. Ada apakah pada dirimu.